Penelitian menyebabkan penyakit. Pada biakan Bacillus anthracis koloni terlihat

Penelitian  Robert koch dimulai ketika antraks menjadi penyakit hewan dengan prevalensi tertinggi pada masa itu. Penelitian yang akan dilakukan Robert Koch bertujuan untuk mengetahui penyebab penyakit anthrax yang merugikan peternak sapi dan domba di Eropa. Ia melakukan penelitian untuk mengetahui bahwa penyakit antraks sendiri disebabkan oleh adanya mikroorganisme tertentu. Didalam percobaannya Robert Koch menginokulasi penyakit anthrax pada hewan uji untuk diketahui pengaruhnya.Anthrax merupakan penyakit menular pada sapi yang paling berbahaya. Bacilllus anthracis  merupakan bakteri penyebab antrak. Bakteri Bacilllus anthracis bersifat akut pada bebagai jenis ternak misalkan ruminansia, kuda, babi, berbagai jenis hewan liar, kelinci, marmut dan burung unta. Untuk mengendalikan penyakit anthrax dapat dilakukan melalui vaksinasi. Hasil dari vaksinasi pada sapi cukup memuaskan yakni menurunnya jumlah sapi yang mati akibat penyakit anthrax secara signifikan. Namun hasilnya akan berbeda pada kambing dan domba. Pada hewan-hewan tersebut terjadi efek Post vaccinal yang dampaknya dapat menimbulkan kematian pada hewan-hewan tersebut. Keberhasilan program vaksinasi penyakit anthrax sangat dipengaruhi oleh status hewan,  jenis vaksin yang dipergunakan dan  cara pemberian vaksin termasuk dosis yang diberikan.Penyebab penyakit Anthrax adalah bakteri Bacillus anthracis dan hanya menyerang hewan menyusui. Bakteri tersebut bersifat gram positif, dengan ukuran besar dan tidak dapat bergerak. Bakteri Bacillus anthracis yang sedang menghasilkan spora memiliki garis tengah 1 mikron atau lebih dan panjang 3 mikron (Subronto, 2003). Hak tersebut pertama kali ditemukan oleh Davaine dan Bayer pada tahun 1849. Selanjutnya dilakukan identifikasi oleh Pollender pada tahun 1855. Pada tahun 1857 Bravel berhasil memindahkan penyakit ini dengan cara menginokulasikan darah hewan yang terkena anthrax. Setelah penelitian sebelumnya mengenai penyakit antraks, pada tahun 1877 Robert Koch membuat biakan murni dari Bacillus anthracis,  dan diperoleh hasil yangmembuktikan kemampuan bakteri tersebut membentuk spora dan  mengenali lebih lanjut sifat-sifat bakteri tersebut. Bacillus anthracis merupakan bakteri pertama yang diketahui mampu menyebabkan penyakit. Pada biakan Bacillus anthracis koloni terlihat mempunyai permukaan seperti serpihan kaca atau ground glass. Pinggiran koloni terlihat sebagai Medussa. Ciri-ciri Bacillus anthracis merupakan bakteri berbentuk batang, ujung-ujungnya persegi dengan sudut-sudut yang tampak jelas, dan tersusun berderet. Pada kondisi yang kurang menguntungkan, bakteri ini membentuk spora untuk melindungi dirinya dalam bertahan hidup. Bakteri ini juga bisa hidup pada kondisi anaerob, apabila bakteri terbenam di dalam lapisan tanah pun tetap bisa bertahan hidup (Sugeng, 2003). Oleh karena itu harus dilakukan langkah-langkah preventif agar penyakit ini tidak menyerang suatu daerah.  Daerah yang terserang penyakita anthrax biasanya lebih bersifat terbatas. Daerah-daerah tersebut biasanya memiliki tanah yang bersifat alkalis dan kaya akan bahan-bahan organik (Subronto, 2003). Banyak daerah peternakan yang diketahui merupakan daerah penyakit anthrax. Apabila terjadi perubahan ekologik, misal musim hujan, spora basil yang semula bersifat laten akan berkembang hingga terjadi peningkatan populasi bakteri dan selanjutnya bakteri tersebut dapat menyerang ternak (Van Ness,1961 yang disitasi oleh Subronto, 2003).Sumber utama infeksi bakteri adalah air dan tanah. Penyakit dapat menyebar melalui pakan. Bakteri masuk tubuh melalui saluran pencernaan. Selain melalui system pencernaan penyakit ini juga bisa masuk melalui saluran pernafasan. Sapi, domba dan kuda biasanya yang paling banyak menderita penyakit anthrax (Subronto, 2003). Hewan pemakan daging dapat menderita anthrax setelah memakan daging yang berasal dari penderita anthrax. Hewan yang mati karena penyakit anthrax menunjukkan bakteriamia yang hebat. Pada waktu pemeriksaan bangkai hewan yang terena antraks, oksigen yang ada diudara akan segera mengubah bakteri yang labil menjadi spora yang memiliki ketahanan tinggi. Oleh karena itu pemeriksaan bedah bangkai anthrak tidak diperbolehkan atau dilarang (Subronto, 2003).Siklus infeksi terjadi melalui selaput lendir dan bakteri akan memasuki cairan limpa kemudian berakhir di dalam darah (Subronto, 2003). Infeksi dapat terjadi melalui kulit, alat pernafasan, dan melalui saluran pencernaan. Infeksi melalui saluran pencernaan dimulai dari spora  yang termakan hewan, kemudian mengalami germinasi dan menjadi bentuk vegetatif dalam mukosa kerongkongan ataupun saluran pencernaan. Bacillus anthracis yang bersifat virulen hanya galur yang mempunyai kapsul dan bersifat toksigenik. Penyakit antraks diakibatkan oleh penyumbatan pembuluh kapiler akibat multiplikasi bakteri. Meskipun demikian kematian akibat bakteri ini menunjukkan gejala toksemia.Eksotoksin ditemukan dalam plasma hewan yang mati. Multiplikasi bakteri terjadi terutama pada bagian edema dan menyebar melalui jaringan limfa ke limfoglandula. Bakteri kemudian masuk ke peredaran darah dan limfa. Sebenarnya bakteri ini disaring di dalam limfa akan tetapi melampaui kemampuan penyaringan sehingga masuk dalam peredaran darah. Gejala saat permulaan munculnya penyakit antraks sulit dikenali, tetapi selanjutnya Nampak tanda-tanda mencret dengan kotoran bercampur darah (Murtidjo, 1990). Menurut Sugeng (2003) pada awalnya hewan penderita akan sulit buang kotoran, kemudian menjadi diare, kotoran bercampur air dan darah. Terkadang darah juga keluar dari mulut, lubang hidung dan vulva (Sugeng, 2003). Tanda utama dari penyakit antraks yaitu terjadi secara mendadak, demam tinggi, kesulitan bernafas, hewan sangat lemah dan kematian terjadi sangat cepat. Kematian berlangsung dalam beberapa menit sampai beberapa hari setelah bakteri penyebab penyakit antraks menyerang. Siklus hidup bakteri penyebab anthrax terdiri atas dua fase yakni fase vegetatif dan fase spora. Fase Vegetatif ditandai dengan bentuk batang, berukuran panjang 1-8 mikrometer dan lebar 1- 1,5 mikrometer. Spora antraks memasuki tubuh inang atau keadaan lingkungan yang memungkinkan spora segera berubah menjadi bentuk vegetatif, kemudian memasuki fase berkembang biak. Sebelum inangnya mati, sejumlah besar bentuk vegetatif bakteri antraks memenuhi darah. Bentuk vegetatif biasa keluar dari dalam tubuh melalui pendarahan di hidung, mulut, anus, atau pendarahan lainnya. Ketika inangnya mati dan oksigen tidak tersedia lagi di darah bentuk vegetatif itu memasuki fase tertidur (dorman/tidak aktif). Jika kemudian dalam fase tertidur itu berkontak dengan oksigen di udara bebas, bakteri antraks membentuk spora (prosesnya disebut sporulasi). Bentuk vegetatif juga dapat terbawa oleh serangga pengisap darah yang menggigit hewan pederita yang berada pada fase akhir. Bisa juga terbawa serangga yang memakan bangkai hewan penderita. Serangga ini kemudian dapat menularkan bakteri ke inang yang lainnya, hingga menyebabkan antraks kulit.Fase Spora berbentuk seperti bola golf dengan ukuran berkisar antara 1-1,5 mikrometer. Selama fase ini, bakteri dalam keadaan tidak aktif , menunggu hingga dapat berubah kembali menjadi bentuk vegetatif dan memasuki inangnya kembali. Hal ini dapat terjadi karena daya tahan spora antraks tinggi untuk melewati kondisi yang tidak diinginnkan, radiasi dan ionisasi, tekanan tinggi, serta sterilisasi dengan senyawa kimia. Ketika spora penyakit antraks memasuki tubuh inang, spora akan berubah mejadi bentuk vegetatif.banyak penyakit yang bisa ditimbulkan oleh bakteri Bacillus anthracis yakni penyakit anthraks pada kulit, penyakit anthraks pada saluran pencernaan, penyakit anthraks pada saluran pernapasan, dan penyakit anthraks pada otak atau meningitis. Anthraks pada kulit terjadi karena terjdi infeksi pada kulit sehingga spora Bacillus anthracis dapat masuk melalui kulit. Anthraks pada saluran pencernaan yang disebabkan karena spora Bacillus anthracis dapat tebawa melalui makanan yang telah terinfeksi penyakit yang nantinya akan dicerna pada system pencernaan. Anthraks pada saluran pernafasann dapat disebabkan karena spora Bacillus anthracis terhidup. Penyebaran penyakit ini tidak menutup kemungkinan semua hewan berdarah panas bisa terkena penyakit antraks. Di Indonesia, penyakit ini sering menyerang hewan ternak misalnya kerbau, sapi, kambing, domba, kuda, dan babi. Dari segi epidemiologi Bacillus anthracis menyukai area tanah berkapur dan tanah yang bersifat basa. Umumnya penyakit antraks menyerang hewan pada musim kering dimana rumput sangat langka, dengan langkanya rumput yang ada maka hewan akan lebih sering mencari makanan.  Hasil penyerangan penyakit antraks ini terjadi pada ternak (terutama kuda) yang tertular melalui makanan rumput yang tercabut sampai akarnya. Lewat akar rumput inilah spora bakteri antraks bisa terbawa masuk kedalam tubuh hewan. Penyakit Antrhax merupakan penyakit zoonis yang menyerang hewan ternak dan bahkan dapat menyerang manusia. Pada umumnya ada tiga cara penularan penyakit anthrax ke dalam tubuh manusia, yaitu melalui kontak langsung dengan bibit penyakit yang ada di tanah/rumput, hewan yang sakit, maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan yang sakit seperti kulit, daging, tulang dan darah. Bibit penyakit antraks juga dapat terhirup oleh  manusia yang mengerjakan bulu hewan pada saat mensortir. Penyakit ini dapat ditularkan melalui pernapasan bila seseorang menghirup spora antraks.

x

Hi!
I'm Clifton!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out